ida_keperawatan maternitas

blognya kesehatan wanita

Seks aman selama kehamilan

Posted by idamaryati on June 16, 2008

Ketika seorang wanita hamil banyak sekali mitos-mitos yang beredar, salah satunya tentang pemenuhan kebutuhan seksual. Ada yang menyarankan untuk menambahkan frekuensi berhubungan namun ada juga yang sebaliknya. Pastilah hal tersebut membuat ibu hamil dan pasangan bingung. Nah agar tidak bingung artikel ini mudah-mudah bisa menjawabnya. Selama kehamilan kebutuhan seksual kedua pasangan harus tetap terpenuhi. Namun budaya di Indonesia kebutuhan seksual itu identik dengan berhubungan intim. Padahal untuk memenuhi kebutuhan seksual pasangan bisa berbagai cara, diantaranya: sentuhan, berciuman, berpelukan, saling memberi perhatian, dan masih banyak lagi. Namun jika pasangan tetap menghendaki berhubungan intim, ada beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum melakukan hubungan intim, yaitu: kondisi kehamilan isteri dan posisi saat melakukan hubungan seksual.

Perhatikan kondisi kehamilan sang isteri, apakah kandungan sehat, dalam arti ketika setelah berhubungan isteri tidak mengalami kontraksi/mules, tidak mengeluarkan bercak darah, tidak menderita sakit, tidak mengalami plasenta letak rendah, dll. Selain itu hubungan intim pada tiga bulan harus dilakukan dengan hati-hati karena si janin belum begitu kuat menempel pada rahim si ibu sehingga bisa menyebabkan keguguran.

Pada kehamilan di atas 38 minggu, pada ibu hamil sehat dianjurkan untuk sering melakukan hubungan intim. Hal tersebut dikarenakan pada sperma suami mengandung prostaglandin yang dapat membantu pematangan mulut rahim sehingga diharapkan dapat segera terjadi proses persalinan.

Adapun posisi yang dianjurkan adalah sebagai berikut:

  • Posisi women on top, dimana posisi wanita berada di atas suami, hal ini berguna agar ibu hamil dapat mengontrol kedalaman penetrasi.
  • Menyamping, dengan demikian perut ibu hamil terbebas dari himpitan.
  • Duduk, hal ini juga bisa mencegah penetrasi yang terlalu dalam.
  • BBerlutut/berdiri, ibu hamil dapat lebih bebas bergerak.

<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:”"; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:”"; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}
<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:”"; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

Yang paling penting dari semua posisi di atas adalah jangan meletakkanberat

badan suami ke perut ibu hamil dan jangan lupa untuk selalu mengutamakan

pengertian, empati, kreatifitas dan humor adalah aspek yang sebaiknya ada

ketika melakukan hubungan seksual pada saat kehamilan.

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>